Dominasi Manusia Pada Alam


KESERAKAHAN DAN KEEGOISAN MANUSIA

Bencana ekologi tak tersangkal faktanya. Kerusakan ekologis yang maha dahsyat, merupakan akibat dominasi manusia pada alam. Terhadap fakta yang menggetirkan ini, Charles Reich bernubuat, “Dari semua perubahan yang terjadi pada manusia, yang paling menyedihkan, manusia telah kehilangan tanah, udara, tetumbuhan, dan pengetahuan tentang tubuhnya sendiri yang berasal dari alam.

” Keserakahan manusia telah mengakibatkan semesta menuju kehancuran”

Betapa sangat egoisnya manusia, membutuhkan udara segar namun merusak alam dengan menebang pepohonan dan tetumbuhan secara liar dan besar-besaran. Membutuhkan air yang bersih namun membuang sampah dan limbah seenak jidatnya.

Pertarungan Paradigma

Meski bukan satu-satunya penyebab, namun timbulnya masalah ekologi tak terpisahkan dari pandangan kosmologi, yang secara faktual menumbuhkan sikap eksploitatif. Setidaknya ada tiga pendekatan etika lingkungan, yakni egosentris, homosentris dan ekosentris, yang niscaya mendasari posisi politis dari pelbagai kelompok yang berkepentingan terhadap sumber daya alam. Konflik kepentingan multifihak yang terus merebak, selalu mengacu pada pendekatan etis itu.

  • Etika egosentris senantiasa konsisten pada kepentingan individu. Bahkan acapkali mengklaim, apa yang baik bagi individu adalah juga baik bagi masyarakat. Paradigma ini, memperoleh pendasaran filosofis dari pemikiran Thomas Hobbes, lewat pepatah yang tersohor “homo homini lupus” (manusia adalah serigala bagi sesamanya). Maka etika egosentris, didasarkan pada asumsi, manusia semestinya memperlakukan alam menurut insting natural.
  • Adapun etika homosentris mendasarkan diri pada kepentingan masyarakat. Klaim utama paradigma ini bahwa model pendekatan pelaku ekologi niscaya melindungi kesejahteraan masyarakat. Namun karena sifatnya utilitaris, etika ini mengarah pada pengurasan sumber daya alam dengan dalih kepentingan umum. Salah satu problema utama etika homosentris dan juga egosentris, adalah gagal memperhitungkan faktor eksternal ekologi.
  • Sedangkan etika ekosentris, mendasarkan diri pada kosmos. Lingkungan secara keseluruhan, dinilai pada dirinya sendiri. Maka paradigma ekosentris merupakan alternatif untuk memecahkan dilema etis ekologi. Terlebih karena keniscayaan bahwa, tetap bertahannya semua yang hidup dan yang tidak hidup sebagai komponen ekosistem, lantaran seperti halnya manusia, semua benda dalam kosmos mempunyai tanggung jawab moral.

Pertarungan antar paradigma itu, telah melahirkan konflik kepentingan antara kelompok privat dan individu, rakyat dan negara, investor dan rakyat. Sehingga, secara sosio politik-budaya, situasi kehidupan manusia justru menjadi kian tidak adil. Terlebih karena eksploitasi sumber daya alam justru menghasilkan kerusakan alam semesta.

Kesemuanya itu tampak nyata dalam praktik industrialisasi, militerisasi dan overkonsumsi. Harga yang paling mahal dari dominasi manusia pada alam, dalam konteks peradaban manusia adalah degradasi lingkungan yang maha dahsyat. Bumi yang hanya satu itu, terus menerus menjadi arena pertarungan keserakahan manusia.

Sesungguhnya, problem mendasar ekologi yang bermuara pada dominasi manusia atas alam, adalah overkonsumsi oleh dunia industri dan kaum elit urban. Dominasi manusia atas alam, menjadi semakin kuat mengakar karena dukungan teknologi. Perkembangan teknologi kian memperkuat posisi manusia dalam kedudukannya sebagai “sang penguasa” alam semesta.

Akhirnya, kata kunci refleksi kultural menyangkut dominasi manusia atas alam, layak disimak pandangan pakar ekologi Tom Dale dan Vernon Gill Carter,

“Manusia beradab, hampir selalu berhasil menguasai lingkungan hidupnya untuk sementara. Kekuasaan yang bersifat sementara itu, dikiranya abadi. Dia menganggap dirinya menguasai seluruh dunia. Padahal dia tak mampu mengetahui hukum alam sepenuhnya.

Manusia, baik beradab maupun biadab,adalah anak alam bukan tuan yang menguasai alam.Bila ia mau mempertahankan kekuasaannya, Dia harus menyesuaikan diri pada hukum alam tertentu. Jika ia mencoba mengelak terhadap hukum alam maka semesta alam yang mendukungnya akan hancur. Jika semesta alam hancur, maka peradaban juga akan hancur.

Setiap detik eksploitasi alam yang dilakukan baik itu penambangan, penebangan pohon, pencemaran air, pencemaran udara dll artinya semakin mempercepat semesta alam menuju kehancuran alias KIAMAT.

Sumber : Pengetahuan Lingkungan (Nomaden Institute Cross Cultural Studies)

Ditulis oleh   : Anis Yulia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s